Surat Tersirat Untuk Agustus

***
Hikayatku untuk engkau yang sempat mengisi ruang nuraniku. Dimensi ruangku tidak akan pernah terukur kembali sebelum engkau dapat pergi dan menggenggam kebahagiaan yang baru. Di ujung pintu, terhenti langkahku untuk bisa menemanimu meraih cahaya itu. Kita telah sampai di sini, dan salam pun telah terkunci. Tetapi… ingatlah! Bahwa ada pintu lain yang dapat engkau temui di ruang nuraniku. Ucapkan kembali salam yang telah lama kurindu.

-cuplikan 1

Saat detik detik waktu menjadi detak detak jantung
Aku tak mampu menjadi sosok munafik
Timbulnya rasa ini tak akan bisa kubendung
Saat itu
Komitmen kita ikat bersama
Tak tersadar halal di atas haram
Melepas lebih baik daripada mengikat dosa
Pikirkanlah
Kita yang dulu sempat bersama
Duduk memandang pertunjukkan berdua
Berjalan berdua ditemani serpihan kata
Tanpa takut apa-apa
Dosa telah kita buat bersama
Ku teringat
Besar pedulimu padaku
Hingga takut ku jatuh sakit karena hujan
Kamu berlari untuk ku bisa berteduh
Tapi aku sudah terlanjur basah kuyup
Terimakasih
Segala kasih sayang pedulimu padaku
Ingatlah
Jika kita hanya sepasang yang semu
Tanpa ikatan sah depan penghulu
Siapa pun boleh masuk
Membuatmu lebih bahagia
Atau membuatku lebih bahagia
Panas matahari di khatulistiwa
Berbanding terbalik dengan salju di mediterania
Itu mungkin terjadi pada kita
Perlahan melupakan
Bergegas masuk ke kehidupan yang telah lama ditinggalkan
Perlahan menghapus
Menoleh kesalahan-kesalahan yang pernah membekas
Menambal dengan keikhlasan yang diperjuangkan
Perlahan mengubah
Mencari bahagia yang baru atau kembali ke bahagia yang lama
Apa yang baik dari diriku?
Ketika kamu sudah menyerah
Aku tak  ada apa-apanya
Tak berdayaku kembali dalam jiwaku
Aku bukan wanita baik untuk pria sebaik kamu
Justru
Aku bersyukur kamu menerima diriku
Kuteguhkan hati untuk saling melepas
Kepergian dan perpisahan
Yang mungkin tak akan berujung
Kamu saja yang pergi
Aku tinggal di sini
Asal kamu bahagia
Akupun tersenyum saja
Kamu saja yang berkilau
Aku berkarat
Asal bisa menjemput mimpi di atas sana
Aku suka kamu bahagia
Itulah janjiku dulu
Inderaku bermimpi
Bersama dalam api dan airmu
Bersama dalam sinar dan padammu
Tak pernah ingin ini terjadi
Arus sudah lebih dulu membawa riak air impianmu
Kamu tau Habibie Ainun
Romeo Juliet
Dan insan cinta di penjuru dunia
Tak pernah memudarkan cintanya
Itu karena mereka terlanjur bergantung
Aku tak pandai membuatmu suka
Sebaliknya
Aku hanya membuka luka
Percayalah
Akan kutebus itu
Jika nantinya kamu tetap bersamaku
Aku tak pandai menepati janji
Karena aku suka lupa
Jadi tetaplah tegur aku
Tetap marah padaku
Saat telah tiba
Langit telah redup
Bulan sendu mengukir perasaan
Sejangkar melingkar peradaban bumi
Kita ini apa?
Pejuang sekarat
Kamu telah jauh
Tak menyurutkan niatku sedikitpun untuk memiliki
Setiap orang punya adam dan hawanya sendiri
Kamu atau aku
Adalah takdir untuk orang diujung doa
Seandainya
Kamu akan mempunyai idola baru
Yang mengalahkan kata cintamu pada ku
Aku tak mencegahnya padamu
Karena ingatlah janji ku yang dulu
“Aku suka kamu bahagia”
Cinta yang baru lebih fresh
Lebih dan lebih dibandingkan cintaku yang hanya setia padamu
Pastilah
Kamu bosan dengan aku yang itu-itu saja
Kamu bosan dengan candaan  yang tiap hari sama
Bosan dengan segala kesalahpahaman yang ada
Biar saja
Meskipun begitu aku tetap berusaha terus menjaga perasaanmu
Taukan kamu
Aku keterlaluan
Sial !
Mencintaimu
Mendambamu
Merindumu setelah ini
Jadi, hindarkan aku dari Membencimu
Sesibuknya aku dengan duniaku nanti
Yakinlah
Itu caraku membangun impian
Begitu sama nya keyakinanku padamu
Dengan begitu
Aku dan kamu
Akan ingat usaha yang sempat kita raih bersama
Usaha menyenangkanmu
Atau menyenangkanku
Menjaga perasaanmu
Atau menjaga perasaanku
Bersama membangun pondasi  keutuhan komitmen
Walaupun telah runtuh
Karena pondasi yang sempat kita bangun
Bukanlah pondasi yang cukup kuat
Menahan segala iklim yang ada
Meskipun itu sering kali gagal
Mungkin idola barumu akan berhasil
Membangun pondasi yang lebih kuat bersamamu
Antara Juli-Agustus
Berkemas bersolek dengan jiwa yang akan lama sendiri
Menyendiri dibalik kesedihan dan kesepian yang menghantui
Kerinduan menyiksa nuraniku
Yang ada hanyalah kebahagian untuk merindukan kekasih Allah
Andai bulan
Kita bersinar pun redup malam
Kamu bulat, aku panjang
Kamu cahaya, aku lilin
Hujan mu telah redah
Pelangimu telah ceria
Tinggal aku saja
Tertumpuk sendu, olehmu
Berjarak-waktu

Comments

Popular posts from this blog

Teks Drama Bahasa Inggris "Legend Banyuwangi"

Resensi Buku Non Fiksi "Biografi Agus Muhadi"